Minggu, 22 Mei 2011

Realisme pada Seni Lukis Indonesia


Awal sebuah kata realisme muncul di dalam teori filsafat. Realisme merupakan paham atau ajaran yang selalu bertolak dari kenyataan. Dalam karya seni visual, istilah realisme mulai muncul pertama kali di Prancis sekitar tahun 1850, yang dipelopori oleh pelukis Gustav Courbet dan Francois Millet. Tema dalam karya-karya pelukis realisme pada masa itu lebih banyak mengambil objek kehidupan petani, buruh, maupun tukang. Di sisi lain, seni lukis realisme di Prancis, mendapat kecamatan keras dari para pemilik modal, kolektor, serta galeri. Dalam konteks ini timbul sebuah pertanyaan, bagaimana kemunculan seni lukis realisme di Indonesia?

Di Indonesia, realisme mulai muncul pada masa kolonial, tepatnya pada masa Raden Saleh Syarif Bustaman pertama kali mempopulerkan karya seni lukis yang bergaya realisme. Tak menutup kemungkinan gaya realisme yang dibawakan Raden Saleh itu merupakan hasil pengaruh dari realisme Barat. Hal ini dikarenakan ia pernah mengenyam pendidikan dasar-dasar seni lukis realisme di Barat, salah satu diantaranya di Belanda.

Sejak kedatangan Raden Saleh di Indonesia, realisme muncul sebagai salah satu gaya dalam seni lukis, dan gaya tersebut membawa perubahan baru seni lukis di Indonesia. Hasil karya seni lukis Raden Saleh lebih banyak mengambil tema kehidupan kaum bangsawan dan kehidupan binatang.

Kepiawaian teknik, bentuk, karakter, terang gelap dan seterusnya, yang diterapkan dalam karya seni lukis tersebut, menjadi perhatian bagi pelukis-pelukis lain di Indonesia, diantaranya adalah pelukis R. Abdullah Suryosubroto, Wakidi dan M. Pirngadi. Tiga pelukis yang pernah bergabung dalam sanggar Hindia Molek atau Mooi Indie (1925-1938) ini, mencoba meneruskan realisme di Indonesia. Tema yang dilukis masa itu hanya menampilkan keindahan alam Indonesia. Tema ini kurang mendapat perhatian dari pelukis-pelukis lain, karena menyempitkan gerakan tema seni lukis di Indonesia. Para pelukis lain yang masih meneruskan gaya realisme adalah Basuki Abdullah, Soedarso, Sudjojono, Affandi, hingga Rustamdji. Para pelukis ini juga merupakan bagian salah satu dari gabungan dalam sanggar-sanggar seni lukis Indonesia, seperti ada yang tergabung dalam sanggar, Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia 1938-1942), Poetera (Poesat Tenaga Rakyat), Sim (Seniman Masyarakat), dan sebagainya.

Dengan muncul dan berkembangnya beberapa sanggar seni lukis di Indonesia, maka tema-temanya pun mengalami perkembangan -- tidak lagi terbatas pada keindahan alam, binatang, potret, tetapi pada pengembangan dari kehidupan dan penderitaan rakyat sehari-hari seperti kehidupan orang cacat, orang miskin, pengamen, kaum buruh, hingga petani. Di sisi lain, pengembangan pada teknik melukis sangat diperhatikan pada masa itu, sehingga seni lukis realisme Indonesia memiliki identitas pribadi.

Mengenang Kembali
Kini, salah satu kurator Indonesia yakni Merwan Yusuf telah kembali memamerkan karya beraliran realisme di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki Jakarta Pusat. Pameran itu telah digelar 24 September dan berakhir 8 Oktober 2003. Tujuan pameran ini, tentu untuk mengenang kembali pertumbuhan dan perkembangan seni lukis realisme Indonesia. Karya-karya seni lukis yang ditampilkan pada pameran kali ini antara lain karya Hendra Gunawan, Henk Ngantung, Yuswantoro Adi, Ida Hadjar YW, Kustiya, Soedarso, hingga Gatot Prakosa. Setiap karya realisme yang dipamerkan memiliki ciri khas dan karakter pribadi. Hal ini nampak pada kemahiran pada teknik melukis, terang gelap suatu objek, ketepatan bentuk, kekontrasan warna-warna, komposisi, pengambilan objek, dll.

Salah satu contoh karya seni lukis disamping menekankan pada bentuk, perspektif dan terang gelap terdapat pada karya Yuswantoro Adi dan Dede Eri Supria. Sementara karya-karya Gatot Prakosa lebih mengandalkan pada komposisi bentuk, warna dan ruang. Kemudian karya Hendra Gunawan menekankan pada permainan warna-warna kontras yang terdapat pada setiap objek, dan penampilan warna-warna juga nampak terpisah-pisah. Pemisahan warna-warna ini, disamping mengesankan terang-gelapnya cahaya, dekat-jatuhnya objek dan memberi kesan ngeri, jijik dan takut. Kemudian bentuk wajah khususnya pada bagian wajah dari masing-masing objek hampir dibuat sama sehingga karakter objeknya juga berkesan sama.

Pijakan-pijakan dasar kesenilukisan realisme yang diterapkan masing-masing pelukis ini memberi dampak positif bagi kalangan pelukis muda lainnya, sehingga seni lukis realisme tetap menjadi eksis di masyarakat. Di samping itu, realisme merupakan dasar untuk melangkah menuju pada gaya-gaya berikutnya seperti surealis, abstrak, ekspresionis, kubisme, pop art, dan seterusnya. Bagi kalangan masyarakat luas -- negara Timur dan Barat, seni lukis realisme sangat mudah dipahami karena disamping bentuknya jelas, tekniknya halus dan dari segi temanya lebih banyak menggambarkan realitas sosial. Bahwa realitas sosial yang terjadi di kalangan masyarakat umumnya menjadi perhatian bagi para pelukis dunia, sehingga pahit dan bahagianya kehidupan masyarakat setempat tetap memberi inspirasi bagi kalangan seniman.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar